Curcol : Menghadapi Pandemi Covid-19
By: Chayu
“Ibu Pertiwi, lihatlah putra-putrimu sedang berjuang. Ibu, kami tahu air matamu terus berlinang. Hatimu susah melihat putra-putrimu maju dalam perang. Tetapi, kami harus maju Ibu. Kami harus siap menjadi garda terdepan dan melawan segala keterbatasan kami. Memang benar, musuh kami adalah sesuatu yang tidak terlihat... sesuatu yang membuat banyak orang menjadi resah... Namun, berapa lama lagi kami harus tenggelam dalam resah? Karena mungkin saja virus itu sudah dekat dengan kami. Tetapi, kami tidak akan tinggal diam. Kami sadar, kami adalah ujung tombak untuk memutuskan mata rantai penularan covid-19. Tak satupun putramu yang tak bergerak. Kami tidak takut dan tidak gentar. Kami tahu benar Sang Khalik Alam Semesta lebih besar daripada covid-19.”
Dokter, perawat dan para tenaga medis sedang berusaha keras, tuk menyelamatkan nyawa penderita covid-19. Memang, tidak semua dari kita dapat menggantikan peran mereka. Tetapi, pada kenyataannya tak sedikit orang yang terpanggil dan tergerak untuk turun langsung menjadi relawan. Walaupun, mereka hanya dapat membantu membuat dan membagikan handsainitaizer, desinfektan, masker, APD, dll. Tentunya, mereka juga harus siap meninggalkan rumah, jauh dari keluarga, keluar dari zona nyaman, dsb. Bahkan sekalipun mereka harus bertaruh nyawa, mereka tetap siap melawan covid-19. Ya, bisa saja beberapa dari mereka terpapar virus covid-19. Kenyataan, tidak hanya masyarakat yang gugur namun sudah banyak juga dokter, perawat, petugas medis, dan relawan yang gugur dalam memerangi covid-19. Tak sedikit juga para pejabat negara yang terpapar. Virus ini tidak memandang kamu orang kaya atau miskin, seorang buruh atau pejabat, siswa atau guru, perawat atau dokter, dsb.
Pemerintah bertindak tegas, dari physical distancing hingga memutuskan PSBB untuk segera ditetapkan dan diterapkan. Tetapi, apakah kita sebagai masyarakat harus diam saja? Tidak, kita juga harus meresponi secara nyata tagline di rumah saja. Peran kita sangatlah besar dan sangat berpengaruh dalam memutuskan mata rantai penularan covid-19. Pemikiran kita yang terbuka dan sikap kita yang bijak akan sangat membantu dokter, tenaga medis, dan pemintah dalam menangani
penyebaran virus covid-19.
Wabah Covid-19 memang harus kita tanggapi secara serius. Bagaimana tidak? dalam sehari saja sudah berapa juta jiwa di bumi yang jatuh sakit karena virus ini? Di manapun kita berada, siapapun kita, kita harus bersatu dan bekerjasama untuk melawan virus ini. Sementara waktu, kita harus beribadah di rumah, siswa harus belajar di rumah, mahasiswa harus kuliah online, pegawai kantor harus WFH (work from home), setiap orang harus menjaga jarak minimal 1 meter, rajin mencuci tangan dengan sabun, memakai masker saat beraktivitas di luar rumah, serta cermat dalam menanggapi berita-berita yang beredar luas baik di TV maupun media sosial.
Mari menjaga orang-orang disekitar kita dengan menjaga kebersihan dan kesehatan diri serta mematuhi ajakan dan aturan yang ada. Isolasi diri bila timbul gejala-gejala covid-19. Mari kita bersatu dalam doa. Sudahi jiwa yang tak manusiawi – menolak kehadiran pejuang covid-19 tanpa belas kasih, menyebarkan berita hoax tentang covid-19, menyalahkan pemerintah karena lamban dalam menekan laju penularan covid-19, panic buying, bahkan hingga menipu dengan memanfaatkan keadaan untuk menjual handsainitaizer palsu dan masker bekas. Tetap tenang, badai pasti berlalu... Bersabarlah dan percayalah kepada Tuhan.
Rancangannya akan indah pada waktuNya. Mari kita bersatu mengulurkan tangan, menyendengkan telinga, membuka pikiran untuk menyatakan kepedulian sosial. Tidak semua masyarakat dapat bertahan hidup dengan diam di rumah saja. Tak sedikit dari mereka harus mendorong gerobaknya, berkeliling menjual dagangannya, menunggu orderan, mengumpulkan botol plastik dari sampah untuk dijual, dsb. Mari peduli, mari berbagi, mari kita lawan covid-19.
Salam penuh kasih,
Chayu
Karya di atas adalah karya saya yang diikutsertakan dalam Lomba #Curcol #DiRumahAja dengan tema "Jaga diri x Jaga Bumi: Kami Siap Melawan Corona" yang diadakan oleh COMM Stride. Dalam lomba ini saya tidak lolos/ belum berkempatan untuk memenangkan lomba. Walaupun begitu, saya tetap bersemangat untuk terus berkarya. Terimakasih COMM Stride 2020 dan rekan-rekan yang terus mendoakan dan mendukung saya.
Semangat Berkarya!
Be blessed! God bless you.
Komentar
Posting Komentar