Melawan Keterbatasan: Tuhan Lebih Dari Cukup #Part1


Tuhan Lebih Dari Cukup

“Chayu, kamu belum paham dengan maksud perkataan Bapak!”, ujar Bapak sambil memberikan penjelasan yang beliau tulis di papan tulis. “Chayu, memang sekarang kamu belum paham, tetapi suatu saat nanti kamu akan paham.” Lanjut beliau sambil memberi gambaran dengan tinta spidol hitam. Tak terasa, waktu itu sudah berlalu dengan sangat cepat. Aku ingat sekali, sore di mana aku dan bapak memperdebatkan sebuah gagasan. Laptop dan pedoman karya ilmiah menjadi saksi bisu akan sulitnya perjuangan kami untuk sehati dan sepikir. 

Entahlah, saat itu aku sudah benar-benar frustasi. Aku merasa bahwa diriku sudah benar-benar paham dengan maksud bapak. Tetapi, semakin aku berkata bahwa aku paham, bapak semakin mendorongku untuk mencoba paham dengan maksud beliau. Suatu hal yang sampai sekarang, belum juga aku pahami. Hari berganti hari – sedikit demi sedikit aku semakin mengerti. Kala itu aku hanyalah seorang anak kecil. Aku belum bisa menjadi anak yang mandiri. Aku masih merengek-rengek pada bapak hanya untuk mendapatkan suatu jawaban. Dan kemudian setelah mendapat jawaban, aku segera menulisnya pada buku PR. 

Entah mengapa semenjak duduk di bangku kelas satu SMA, aku sering sekali mendengarkan perkataan-perkataan yang begitu dalam maknanya. Salah satunya, perkataan bapak yang sampai detik ini masih berselimut misteri. Ada teka-teki yang harus dipecahkan. Tentunya, itu menjadi PR rumit bagiku. Terlepas dari semuanya itu, mau tidak mau aku harus melanjutkan karya ilmiahku. Waktu itu, aku tidak dapat berdiskusi lama dengan bapak – ya, bapak memang aktivis dalam organisasi masyarakat. Jadi, tanpa pikir panjang aku kerjakan saja sebisa ku. Setelah diprint-out aku bergegas tidur karna besok aku harus bangun pagi-pagi.

Kurang lebih sekitar pukul 22.00 WIB, tiba-tiba ibu membangunkan aku dari tidurku. “Chayu, bangun nak... bangun..” – ujar ibu sambil menarik selimutku. Saat itu aku susah sekali dibangunkan, karna sangat mengantuk sekali. “Chayu bangun, ayo sini bantu ibu pijat bapak. Bapak sakit nak, badannya kurang sehat”, tambah ibu yang terlihat begitu cemas dan pucat. Aku segera menuju kamar bapak, memang disana aku melihat bapak sedang tidak sehat. Entah, apa yang ada dibenakku saat itu. Aku biasa saja, bahkan aku hanya menyepelekan hal itu. Menurutku, saat itu bapak hanya kelelahan. Aku hanya membantu memijat bapak sebentar, lalu aku kembali tidur lagi. Saat kembali tidur tiba-tiba aku terdiam dan melamun di atas tempat tidur. Tak lama aku tertidur, tiba-tiba ibu datang lagi ke kamar ku. Ya, ibu membangunkan aku lagi. Saat itu, ibu memang cukup kesal denganku – aku memang susah sekali dibangunkan waktu itu. Maksud beliau supaya aku dapat meringankan usaha ibu. Karna bapak minta tangan kiri dan kanannya agar dipijat. Selama membantu ibu memijat bapak yang terlihat seperti susah bernapas – bapak hanya meminta kami untuk berdoa, tapi semua berlangsung begitu cepat. Kaki bapak menjadi dingin, bapak semakin menahan rasa sakit pada bagian dadanya.. untuk bernapas pun sangat sulit bagi bapak. Saat itu bukan main kecemasaan ibu, walau dilarang bapak... ibu tetap menghubungi keluarga yang tak jauh dari rumah kami.

Satu persatu keluarga kami mulai berdatangan, situasi waktu itu terasa semakin tegang. Aku dan keluargaku hanya bisa membantu menghangatkan kaki bapak dengan minyak kayu putih – kaki bapak makin lama memang semakin dingin. Saat salah satu paman ku hendak menghubungi ambulance, tiba-tiba kulihat wajah bapak menjadi gelap dan suara berusaha keras menahan rasa sakitnya juga tak lagi kudengar. Hari itu, nyawa bapak tak tertolong, aku begitu terpukul – begitu juga dengan ibu dan adikku. Kami memang tidak begitu saja percaya akan hal itu. Sampai kami mendapat kabar, bahwa jantung bapak sudah berhenti. Ya, bapak sudah tenang di sana – di pangkuan Sang Pencipta. Malam itu aku melihat jelas dengan mata kepalaku sendiri, susunan karya ilmiahku – hasil diskusi dengan bapak, tak sengaja jatuh dan diinjak-injak orang yang mencoba menghiburku. Padahal, keesokan harinya adalah hari terakhir pengajuan karya ilmiah. Ya, aku pun sangat yakin untuk tidak melanjutkannya. Aku tidak mengerti bagaimana cara menjelaskan seperti apa perasaanku saat itu.


Bersambung...


Karya di atas adalah karya saya yang telah diikutsertakan dalam Lomba Student at Home Challenge dengan tagline "Living Inside, Thinking Outside" dan dalam kategori cabang lomba "Kisah Inspiratif" yang bertemakan "Melawan Keterbatasan". Lomba ini diadakan oleh IPB. Pada lomba ini saya belum berkesempatan memenangkan lomba. Namun, saya menjadi semakin bersemangat untuk menulis kisah inspiratif dan tentunya untuk memotivasi dan mengsinpirasi banyak orang.
Terimakasih IPB dan rekan-rekan yang sudah mendukung saya.

Karya ini bersambung, dari awal kisah Melawan Keterbatasan Part #1 hingga #Last
Simak terus yaaaa

Semangat Berkarya!
Be blessed!
God bless you.

Komentar