Lanjutan...
Singkat cerita, semenjak kepergian bapak – aku, ibu, dan adikku juga sempat kehilangan semangat. Bahkan semakin hari, ibu terlihat kurang sehat. Berat badan beliau semakin menurun, aku bahkan tidak tahu harus berbuat apa. Pikiranku saat itu belum sampai rencana di masa depan. Bahkan aku sempat tak habis-habis bertanya tentang keputusan ibu. Bagaimana tidak? Begitu tiba-tiba ibu mengajak aku dan adikku berbicara, jelas kudengar; “Ibu mau mengajak kalian pindah ke Lombok.” Ujar beliau dengan begitu serius. Aku dan adikku bertanya-tanya; ada apa memangnya... “Kalau kalian mau tinggal sama ibu, ikut ibu ke Lombok!” lanjut beliau dengan nada tegas. Begitu rumitnya hari demi hari tanpa bapak. Semua tentang bapak memang tak bisa kami lupakan. Kesetiaan, pekerja keras, pantang menyerah, tulus, sabar, dll semuanya kami temukan pada almarhum bapak. Guru salah satu SMA di Surakarta itu, tak pernah mengeluh. Ketika tugas beliau sudah usai pada suatu bidang, beliau berdoa kepada Tuhan – dalam doanya, beliau berkata: “Tuhan, tugasku yang ini sudah usai. Kini tugas apalagi yang harus aku kerjakan dan selesaikan?”. Aku tahu hal itu dari ibu, bapak memang tak jarang menceritakan pekerjaannya di Sekolah.
Jadi, bagaimana aku tidak patah semangat? Aku bahkan tidak fokus dengan pelajaranku. Hingga pada akhirnya saat ujian kenaikan kelas semester dua, nilai ku benar-benar merosot. Peringkatku di kelas pun juga turun. Sekalipun aku tetap naik kelas dua, rasanya aku tidak dapat memberikan yang maksimal saat itu. Aku ingat sekali, waktu itu libur panjang setelah kenaikan kelas – aku, adik dan ibu sudah siap pindah ke Lombok. Di sana, kami menumpang di rumah paman. Keluarga kami di sana sangat ramah dalam menyambut kedatangan kami. Aku dan adikku melanjutkan sekolah kami di Lombok.
Duduk di bangku kelas dua SMA memang terasa semakin serius. Tidak terlalu berat untuk mengejar pelajaran yang berbeda kurikulum saat itu. Karna waktu itu, begitu bulat tekadku untuk belajar. Bahkan aku sangat bersemangat untuk mendaftarkan diriku di salah satu bimbingan belajar di Lombok. Aku ingat sekali, hari di mana aku terjatuh dari motor saat aku benar-benar sudah terlambat untuk berangkat ke bimbingan belajarku itu. Saat hendak menyalib mobil di depanku yang melaju begitu lamban, aku yang mengambil lajur kiri tiba-tiba motor ku tergelincir. Bagaimana tidak? Aku benar-benar kaget karna tiba-tiba ada seorang ibu mengendarai motor bersama kedua anaknya yang masih kecil. Sontak saja, aku yang tidak berpikir panjang langsung memainkan semua rem, termasuk rem depan yang begitu sensitif. Lampu motor beliau memang rating ke kiri, jadi aku berpikir beliau akan belok ke kiri. Maka dari itu, aku mengambil lajur kanan untuk menyalib beliau. Tetapi, ternyata dugaanku salah. Beliau sebenarnya hendak belok ke kanan. Dan akhirnya karna kecelakaan itu, tangan, kaki, dagu, dan leherku menjadi terluka dan sakit. Walaupun begitu, aku tetap melanjutkan perjalananku menuju bimbingan belajar. Sesampainya di sana rasa sakit itu semakin terasa. Ya, begitulah perjuanganku untuk mencari ilmu. Aku jadi teringat kenanganku di Solo, tatkala naik motor ke sekolah untuk pertama kalinya. Semenjak kepergian bapak, aku harus ekstra mandiri dalam memenuhi tugasku sebagai pelajar. Waktu itu ada ujian sekolah, aku harus berangkat lebih awal supaya tidak terlabat. Biasanya aku diantar oleh paman/ bibi, aku sudah banyak meminta bantuan pada mereka. Waktu itu aku hanya ingin mandiri dan tidak banyak merepotkan orang lain. Jadi, aku memutuskan untuk naik motor ke sekolah sendiri. Padahal aku tidak pernah belajar mengendari motor sama sekali. Bahkan aku baru tahu cara mengganti persneleng motor saat di Lombok.
Sekalipun banyak rintangan, semua kujalani dengan sukacita dan banyak belajar di setiap tantangan hidupku. Singkat cerita, saat naik kelas tiga SMA aku juga harus beradaptasi lagi dengan semua hal yang terasa begitu rumit. Aku harus mempersiapkan diri untuk menghadapi USBN dan UNBK. Walaupun aku sudah belajar semampuku, sayangnya aku tidak dapat memberikan hasil yang terbaik. Aku lulus dengan nilai yang tidak memuaskan.
Bersambung...
Komentar
Posting Komentar