Melawan Keterbatasan: Tuhan Lebih Dari Cukup #Part4


Lanjutan...

Singkat cerita, usaha-usaha kami di Solo diberkati Tuhan. Kami bahagia di sini –Tuhan memberkati ibu dalam usahanya menjual aneka makanan dan minuman yang banyak digemari anak-anak. Ya, di Solo kami tinggal di rumah kami sendiri. Kami tidak menumpang di rumah orang lain lagi. Kami semakin tahan banting dalam menghadapi masalah. Karna kami percaya kami tidak sendiri, ada Tuhan yang selalu setia menopang kami bertiga. 

Aku melanjutkan kuliahku lagi, tapi sayangnya aku harus mengulang dari semester satu. Karena untuk melanjutkan pendidikan di universitas lain ada syarat dan ketentuannya. Dan aku tidak masuk dalam syarat dan ketentuan tersebut. Tentu, itu artinya aku tidak dapat melanjutkan pendidikanku sebagai mahasiswa pindahan. Tak patah semangat, aku mencoba mengikuti SBMPTN tahun 2018 di Solo. Dalam pemilihan, ada sedikit perbedaan pendapat. Ibu dan keluargaku yang lain tidak setuju aku melanjutkan salah satu program studi di fakultan pertanian. Mereka ingin aku mewujudkan cita-citaku waktu SMP yang ingin menjadi guru matematika. Dengan mengangkat pergumulan itu kepada Tuhan, aku semakin memantapkan diriku untuk mengambil program studi matematika. Sayangnya, aku tidak lolos dalam SBMPTN tahun 2018. Ya, sudah pasti aku sangat kecewa karna hal itu. Tetapi, ibu dan keluargaku terus memberiku motivasi dan cerita inspirasi. Tuhan juga menjawab doa pergumulanku. Melalui pamanku dari Boyolali, Tuhan memberikan aku satu nama kampus swasta di Klaten.

Yang ada dipikiranku saat itu hanyalah bagaimana caranya supaya aku segera melanjutkan pendidikanku. Bibiku juga membagikan semangatnya, bahwa untuk menjadi orang sukses tidak harus kuliah di universitas negeri atau di kampus ternama. Saat itu, aku sangat setuju dengan bibiku – semangatku yang patah semakin hari semakin membara kembali. Singkat cerita, aku berhasil kuliah di Klaten. Transportasi pertamaku menuju Klaten adalah kereta api. Aku jadi ingat akan kenangan di stasiun Klaten. Aku ingat sekali saat itu aku memakai baju putih dan rok hitam. Waktu itu aku bangun kesiangan padahal PKKMB dimulai pagi sekali, jadi aku sempat terlambat sampai di stasiun. Tapi untung saja, ketika aku baru masuk tak lama kereta itu pun berangkat. Benar adanya, tidak menentu untuk mendapatkan bangku di kereta. Jika aku tidak dapat, aku harus berdiri 30 menit lamanya sambil menjaga keseimbanganku saat dalam perjalanan menuju stasiun Klaten. Dari stasiun Klaten aku harus naik ojek online baru bisa sampai di kampus. Saat harus pulang ke Solo aku juga harus bersabar. Karna PKKMB baru selesai pukul 17.00 WIB, tidak bisa dipungkiri aku harus siap kehabisan tiket kereta terakhir yang keberangkatannya di sore hari. Jadi, aku harus menggunggu kereta selanjutnya yaitu, pukul 21.00 WIB. Dan artinya aku baru sampai rumahku sekitar pukul 22.00 WIB.

Bersambung...

Komentar