Karya LCPN Pertama: Alam Berbicara

Karya: Dyotachayu Solagratia Purnomo

Bumi kosong, gelap gulita menutupi
Jadilah petang, jadilah pagi
Terpisahlah terang dari gelapnya bumi
Jadilah petang, jadilah pagi
Jadilah terang ketika siang hari

Air terpisah dari air
Tanah pisahkan air dari air
Hingga darat terlihat di antara air dengan air
Kering itu darat, laut itu kumpulan air
Cakrawala itu saksi, sumber kehidupan bumi ialah air

Tanah tumbuhkan pohon
Dari biji buah menjadi pohon
Dari tunas muda menjadi pohon
Buahnya berbiji, ada biji ada pohon
Bumi terisi, satu dua juta tak terhitung banyaknya pohon

Pelukis Agung pernah berjanji
Langit tak selalu gelap layaknya malam hari
Dan kini janji itu telah digenapi
Siang sudah dipisahkan-Nya dari malam hari
Digenapi-Nya bulan, bintang jua matahari

Bumi terang dengan benda-benda penerangnya
Makin jelas saat sinar mentari memeluknya
Air, tanah, bahkan pohon tersenyum karnanya
Langit malam tak lagi sunyi saat memandangnya
Karna bulan dan bintang senada tunjukkan kolaborasinya

Masa-masa tetap di bumi telah terjadi 
Dimulai sejak siang terpisah dari malam hari
Benda-benda penerang menjadi tanda pasti
Hari berganti hari
Hingga tahun berganti lagi

Cakrawala tersenyum lebar tak berkurang
Samudera raya riang sambut laskar penerang
Sang Pencipta genapi bumi beranekaragam binatang
Ada binatang udara bersayap bisa terbang,
Dan ada binatang laut yang jago berenang

Dijadikan-Nya darat habitat binatang melata
Serta bintang liar dan ternak di bawah cakrawala
Digenapi-Nya jua, makhluk hidup paling mulia
Yakni manusia yang diberkati menurut gambar-Nya
Mereka beranakcucu dan penuhi bumi dengan cinta 

Semua berawal dari rasa saling percaya
Aku percaya pada manusia
Pasti dirawat, dilestarikan, juga dijaganya
Tentu manusia percaya padaku, aku alam semesta
Manusia kenyang tanpa harus bertaruh nyawa

Mereka meminta air, aku memberinya air
Mata air ku tak pernah berhenti mengalir
Ku alirkan terus-menerus dari hulu ke hilir
Ku beri air bersama angin semilir
Selalu tepat janji, dari awal sampai akhir

Daratanku, lautku, udaraku
 Tak lagi kutemui seperti dulu
Mereka rampas keadilan dariku
Mereka ambil dan hiraukan rasa sakitku
Aku menderita, aku menangis setiap waktu

Apa kalian tak tahu?
Atau kalian tak ingin tahu?
Mungkin saja kalian pura-pura tak tahu
Tiap tetesan air mataku, menjadi bencana bagimu
Dan pasti kalian akan menangis sepertiku

Hewan-hewanku punah
Ikan-ikan ku tak lagi melimpah
Hutanku, pohonku musnah
Bumiku rusak dan terluka parah
Kini aku resah dan hanya bisa pasrah

Mereka makan dan minum di tempat duduk
Tanpa disadari sampah makin menumpuk
Bumi semakin batuk-batuk
Hingga air matanya buat hati menjadi remuk
Tetapi, apa pernah aku lontarkan kalimat kutuk?

Kalian asik berkumpul
Membuat api hingga asap mengepul
Aku menangis dan terpukul
Kalian kepalkan tangan untuk saling memukul
Merebutkan hartaku yang telah terkumpul

Bagaimana aku tak menyadari
Manusia bukan lagi cinta sejati
Karna mereka hanya bisa menyayat hati
Musnahkan keanekaragaman hayati dari bumi
Tetapi ingatlah aku ini Ibu Pertiwi

Sampah adalah makananku
Sampah juga makanan bagi ikanku
Aku selalu kenyang karna sampahmu
Samuderaku, tanahku, bahkan ikanku
Ya, aku adalah tempat sampahmu

Tetapi percayalah padaku
Memang tak ada yang lebih pintar darimu
Kau buat plastik cantik berisi roti keju
Rotinya pasti kenyangkan perutmu
Tentu, plastiknya tidak enak bagimu

Semua berawal dari tanganmu
Hingga semua plastik itu sampai ke lautku
Bahkan masuk dan diam di perut ikan-ikanku
Kau memang tak memakan plastik itu
Namun kau pasti mau memakan ikanku

Ya, semuanya akan kembali lagi padamu
Sekalipun beda wujud, ketika masih di tanganmu
Tetapi bukankah kamu kenyang memakan ikan itu?
Tak bisa dipungkiri, manusia memang butuh aku
Tetapi, aku tidak butuh manusia sepertimu

Mulai jam ini, menit ini, detik ini
Dengarkan aku baik-baik, hai penghuni bumi
Jangan pernah berkata bahwa aku tak manusiawi
Apa yang kau tabur, itulah yang akan kau tuai
Darimu, olehmu, untukmu hai penghuni bumi



Komentar