Mitra Kerja Allah

Mitra Kerja Allah

Oleh: Dyotachayu Solagratia Purnomo

✍️17 Februari 2021

 

Wabah Covid-19 telah menjadi pandemi global dan memberikan dampak bagi sektor-sektor kehidupan makhluk hidup di seluruh dunia. Berdasarkan data terbaru dari Worldometers.info yang dikutip oleh Pikiran-Rakyat.com jumlah kasus Covid-19 di dunia pada Kamis, 31 Desember 2020 sudah mencapai 83.060.276 kasus dengan 1.812.046 kematian dan pada Rabu, 17 Februari 2021 pagi WIB mencapai 110.005.954 kasus (Liputan6.com)

Dilansir dari AntaraNews.com dengan adanya pandemi Covid-19 di Indonesia, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) mencatat sejak awal pandemi masuk ke Indonesia pada Maret 2020 sampai awal Februari 2021 telah terdapat 6.417,95 ton timbunan limbah medis Covid-19.

Melihat adanya potensi bahaya dari limbah medis penanganan Covid-19, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) mengeluarkan pedoman pengelolaan limbah tersebut. Pedoman itu termuat dalam Surat Edaran No. SE.2/MENLHK/PSLB3/3/2020 tentang Pengelolaan Limbah Infeksius (Limbah B3) dan Sampah Rumah Tangga dari Penanganan Corona Virus Disease (Covid-19) tertanggal 24 Maret 2020 (KLHK RI, 2020)

Menanggapi problematika ini, sebagai anak Tuhan tentunya kita dapat menjadi garam dan terang dunia melalui aksi nyata tanggap bencana. Sebagian masyarakat yang tersadarkan akan dampak buruk dari limbah B3 Covid-19 semakin banyak menyerukan suara kebenaran. Banyak dari mereka yang memperluas ajakan kesadaran melalui media sosial seperti Twitter, Facebook, hingga Instagram.

Tak sedikit media massa yang menyoroti kondisi TPA (Tempat Pembuangan Akhir) di seluruh wilayah Indonesia. Hasil yang dapat kita lihat di lapangan sangat jelas, masih menjadi polemik dan meresahkan kita semua – jejak timbunan sampah atau limbah dari pandemi ini masih saja ditemukan – hanya dibuang begitu saja tanpa ada penangan khusus sebelum sampai ke TPA. Bahkan tak jarang menemukan postingan anak-anak muda yang membagikan potret-potret sampah/limbah medis Covid-19 yang mereka dapatkan dari akun-akun peduli lingkungan ataupun platform berita online. Dalam potret tersebut, nampak jelas masker medis bekas yang sudah sampai di lautan bebas, pun hingga sampai di tangan hewan-hewan lucu yang nampak sedang memainkan masker bekas tersebut.

Perlu kita ketahui, pada tahun 2020 Pemerintah bersama tim medis di berbagai Rumah Sakit bekerja sama mengatasi limbah medis B3 Covid-19 yang semakin lama semakin menumpuk. Pengolahan limbah dengan menggunakan teknologi termal yang tidak menghasilkan emisi berbahaya ini merupakan keunggulan alat ini (autoclave). Selain autoclave adapun insinerator, keduanya juga sudah memiliki izin walaupun belum merata pemakainnya di seluruh Rumah Sakit ataupun Tempat Umum (dikutip  dari m.MediaIndonesia.com) – Setidaknya langkah ini sudah cukup mengurangi dampak dari limbah pandemi. Sekalipun belum 100% membantu menyelesaikan secara merata di seluruh wilayah Indonesia.

Dengan melihat kejelasan yang ada, betapa bahayanya dampak buruk dari limbah ini – Akankah sebagai masyarakat terutama kita yang sekaligus sebagai anak muda tinggal diam saja? – Adapun salah satu dampak yang menjadi alasan terkuat yaitu penularan atau penyebaran virus Covid-19 melalui limbah medis B3 Covid-19. Sedangkan hal tersebut tidakkah bertolak belakang dengan gerakan memutus mata rantai penyebaran virus Covid-19? Hal ini tidak hanya masuk dalam pokok-pokok doa kita, namun diharapkan juga menjadi tugas dan kewajiban kita dalam mengatasi permasalahan ini.

Selain kesadaran tiap umat, bumi kita juga membutuhkan gerakan perubahan secara nyata – bumi tidak hanya menarik umat untuk larut dalam simpati dengan berbagai kasus yang ada. Bumi berharap manusia mau ikut ambil bagian dalam mengatasi kasus-kasus dengan penuh empati. Kita dapat memulainya dengan hal-hal kecil di sekitar kita, terkhusus saat kita beraktivitas di rumah.

“Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.” (Matius 5:16)

Apa saja yang dapat kita lakukan sebagai mitra kerja Allah terutama melalui rumah? Kita dapat mulai dengan membiasakan diri memilah sampah, mengganti masker medis dengan masker kain, mengolah sendiri masker medis dengan memotongnya menjadi bagian-bagian kecil sebelum di buang ke tempat sampah. Itulah hal-hal kecil yang dapat kita lakukan untuk memutus mata rantai penyebaran virus Covid-19. Selain mencuci tangan, menjaga jarak, menghindari keramaian, kita juga harus peka dan sadar untuk menjaga lingkungan sekitar kita tetap bersih dan sehat.

Firman-Nya: “Jika kamu sungguh-sungguh mendengarkan suara TUHAN, Allahmu, dan melakukan apa yang benar di mata-Nya, dan memasang telingamu kepada perintah-perintah-Nya dan tetap mengikuti segala ketetapan-Nya, maka Aku tidak akan menimpakan kepadamu penyakit mana pun, yang telah Kutimpakan kepada orang Mesir; sebab aku TUHANlah yang menyembuhkan engkau.” (Keluaran 15:26)

Kita adalah saluran berkat bagi banyak orang, baiklah kita mau mengasihi sesama melalui hal-hal kecil yang sesungguhnya memiliki dampat yang besar. Menjaga kebersihan, mau mencari tahu atau menambah wawasan akan pentingnya memilah sampah, bersemangat untuk belajar bagimana cara mengolah sampah dengan baik dan benar, dsb. Ada banyak cara yang dapat kita lakukan untuk memupuk rasa cinta kita terhadap lingkungan kita.

Dalam website GKIMY.or.id pada artikel “Garam yang Larut dan Terang yang Terlihat” – Pdt. Bernadeth Florenza menyatakan bahwa: “Ada begitu banyak cara untuk menghadirkan pengaruh dan dampak yang baik bagi orang lain dan lingkungan sekitar kita. Yang perlu kita lakukan adalah segera memulainya dan mengerjakan hal-hal tersebut dengan ketulusan, semangat, serta konsistensi.”

Dengan rendah hati kita mendengarkan suara Tuhan, cepat mendengar dan melakukan perintahnya dengan segenap hati – Allah tengah mempersiapkan kita menjadi umat utusan-Nya yang siap mengabarkan kabar baik. Tentu saja, tidak hanya menyenangkan hati Allah, namun kita juga dapat menolong sesama dengan terus menjaga kebersihan dan melaksanakan protokol kesehatan.

 “Segala sesuatu halal bagiku, tetapi bukan semuanya berguna. Segala sesuatu halal bagiku, tetapi aku tidak membiarkan diriku diperhamba oleh suatu apapun.” (1 Korintus 6:12)

“Segala sesuatu diperbolekan. Benar, tetapi bukan segala sesuatu berguna. – Aku menjawab: Jika engkau makan atau jika engkau minum, atau jika engkau melakukan sesuatu yang lain, lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Allah.” (1 Korintus 10 : 23a & 31)



 

 

 

Komentar