Berani Percaya: Andalkan Allah Saja
Bagi beberapa
orang yang pernah “berani percaya” namun di tengah jalan harus mengurungkan
keberaniannya, memadamkan kehangatannya yang membara, serta melepaskan ikatan
yang telah berusaha ia jaga sekian musim lamanya. . .
Manusia,
atau adakah cara
lain untuk mengutarakannya secara detail supaya jelas kedengarnya?
Sesama manusia,
sudah terdengar
bahwa ada suatu ikatan bukan di dalamnya?
– “sesama”
Dengan kata lain kita bisa memperjelasnya dengan “saling”
– ada saling dalam sesama. Ketika seseorang memiliki suatu keberanian mungkin
saja tak selalu berasal dari dirinya sendiri atau Tuhan, namun tentu saja “sesama”
memiliki kemungkinan besar bukan?
Sesama dapat hadir dan menyulut api semangat, melipur
lara, mendampingi seperti saudara, bahkan membangkitkan obor keberanian untuk
percaya. Yang, ntah percaya dalam berbagai macam hal apa. . .
Kemungkinan buruknya mungkin saja seperti: percaya
pada yang salah atau percaya dengan cara yang salah. Ya, kemungkinan-kemungkinan
itu bisa saja terjadi!
Begitu banyak ragam cerita dunia bukan? Jadi, simpulan
seperti tadi bisa saja tak hanya pernah kita dengar kejadiannya namun juga bisa
saja terjadi dalam cerita hidup kita dengan sesama.
Percaya,
Kalau kita sudah
sampai pada tahapan “ambil percaya” atau “memiliki iman” di dalam Tuhan, beberapa
dari kita mungkin lebih selektif lagi untuk “berani percaya” – tentu saja, iya.
Kritisnya, semakin kita belajar dalam “kepercayaan
kita pada-Nya” kita pun semakin bijak dan lebih mengenal ragam serta
karakteristik percaya dalam
masing-masing orang atau sesama kita. Kita semakin mampu mengendalikan diri
kita dalam mengambil percaya untuk memberikannya kepada sesama dengan latar
belakang permasalahan yang berbeda-beda.
Poin paling pentingnya, kita juga belajar mengapa kita harus percaya dan tidak percaya, atau
mengenali hal-hal yang berkaitan dengan kekuatiran kita dalam percaya pada
sesama manusia.
Atau kita harus kecewa lagi karna sisi kemanusiawian
kita yang tidak tepat dalam keberanian pada sesuatu yang tidak benar bagi
Allah. Yang pada akhirnya kita harus menghadapi proses “pengampunan” dan “membereskan
kepahitan” terhadap sesama manusia.
Manusia,
Bagian dunia yang
tak pernah terlewatkan dalam setiap cerita – manusia dunia memang tak
seharusnya manusia lain andalkan bukan? Itupun tlah menjadi salah satu
pesan-Nya bagi kita selama mengasihi sesama manusia. . .
Dengan menganalisis alur cerita dan mengenal watak
tiap tokoh, kita mulai paham akan satu hal penting, yaitu bahwa untuk dapat
berani percaya kita hanya perlu mengandalkan Allah saja.
Mengandalkan Allah saja mungkin akan menjadi pilihan
berat bagi manusia dunia. Namun, ketika kita benar-benar menjadi orang percaya
yang selalu mengandalkan-Nya saja, kita pun akan semakin percaya diri dalam
berani percaya pada sesama manusia. Jelasnya, kita akan semakin bijak dalam
memutuskan pilihan mengapa harus percaya atau tidak percaya. Ya, kita tahu
apa yang perlu kita kerjakan dan paham mengapa kita perlu mengerjakannya.
Hanya di dalam Allah
saja, hatiku tenang.
Berani Percaya!
Komentar
Posting Komentar