Luput . . .
Setiap kisah seringkali memiliki kecenderungan
bersifat “tak pernah lepas atau terkait dengan kasih” – dimana ada kisah disitu
ada kasih . . .
Beberapa kisah yang berhasil menyentuh hati pendengar
ataupun pembacanya tidak jarang lebih dahulu terjadi ‘luput’ dalam memandang
benar sebagaimana mestinya wajah apa adanya ‘kasih’ itu sendiri.
Kalimat seperti “ih kasihan ya! . . .” tentunya akan
ada saja kita jumpai pun kita dengar secara langsung dari berbagai macam suara
manusia dengan latar belakang keunikan karakter yang ada pada masing-masing
pribadi mereka.
Pilihan untuk pro dan kontra hingga membela mana yang
benar dan salah, semakin lama semakin memliki potensi kuat untuk
terlahir sebagai suatu budaya kemanusiaan.
Luput . . .
Nyatanya, tak sekadar seperti itu!
Akan menjadi tidak mudah (luput) untuk melihat dengan
jelas, seperti apa wajah kasih yang sebenarnya.
Ini seperti bagaimana sudut pandang kita mengatasi
permasalahan kebersihan, contoh: siklus (regenerasi) pertumbuhan rumput liar yang sangat cepat
hingga akhirnya menjadi semak berduri.
Ya, ini tentang pilihan “mencabut rumput sampai akarnya” atau “mencabut rumput lalai akarnya”,
dengan highlight: "pilihan untuk memandang kasih dengan kacamata iman dan pengharapan di dalam
Allah adalah jalan hidup yang benar".
Penyelidikan dan pengenalan akan kasih dengan iman dan
pengharapan di dalam Allah akan lebih memudahkan kita untuk sejalan dengan
kehendak Allah. Ketika kita mulai menyelidiki, kita mulai tahu bagaimana kasih
itu bertumbuh. Hingga akhirnya, kita mengenal karakteristik tumbuhan dari
buah kasih itu sendiri.
Bagaimana proses tumbuhan
itu bertumbuh hingga berbuah?
Waktu kita sampai dimana fakta “pertumbuhan kasih”
tadi sudah dalam genggaman pikiran dan hati kita. . .
Kita pun semakin paham bahwa kasih, iman, dan
pengharapan saling terkait erat satu sama lain. Ketiganya saling mengisi dan
melengkapi pelajaran kehidupan atau nilai-nilai yang terkandung di setiap
kisah. Begitu banyak macam kisah-kasih dalam hidup yang kita temui-
-Terlebih indah
maknanya bila bersumber dari Allah.
Sudah berapa kisah
yang luput dari pemahaman kasih yang benar?
Masihkah rumput liar yang katanya “sudah
dicabut “ kembali bertumbuh subur?
Sama halnya ketika kita hanya sekadar larut dalam
simpati dan empati yang dunia ajarkan namun masih saja luput menyadari bahwa
Allah tengah berbicara secara serius melalui kisah-kasih yang kita temui di
dunia ini . . .
Pilihan kita dengan “mencabut rumput lalai akarnya” hanya akan membiarkan rumput kembali
bertumbuh dengan renggang waktunya. . .
Satu bulan kemudian misalnya; daun dan batangnya mulai
menghijau dan menghiasi pot bahkan halaman rumah seperti waktu dimana daun dan
batang rumput belum dipisahkan dari akarnya . . .
Perlukah membiarkan dan menunggunya untuk menjadi semak berduri seperti beberapa kisah-kasih yang pernah bahkan masih ada sebelumnya?
Luput.
Komentar
Posting Komentar