Salah Berdoa: Seperti Tidak Mengenal Allah
Berdoa, begitulah dunia menyebutnya.
Berdoa, bagi dunia adalah permintaan untuk disampaikan kepada Sang Kuasa.
Berdoa, apakah
sekadar itu keindahannya?
Sebenarnya apa itu
berdoa?
Dalam 1 Yohanes
5:14 menyatakan demikian:
“Dan inilah
keberanian percaya kita kepada-Nya, yaitu bahwa Ia mengabulkan doa kita,
jikalau kita meminta sesuatu kepada-Nya menurut kehendak-Nya.”
Mari kita garis bawahi kata kehendak-Nya –
Dan mari kita membuka pembahasan ini dengan topik: berdoa
Tentang berdoa, aku sendiri pernah memiliki kisah
tentang berdoa yang sangat bermakna begitu mendalam bagiku.
Salah berdoa . . .
Ya, bisa dibilang waktu itu doa yang kupanjatkan
pada-Nya tidak sesuai dengan kehendak-Nya, menyinggung dan melukai hati-Nya.
Yakobus 4:3 berkata:
“Atau kamu berdoa
juga, tetapi kamu tidak menerima apa-apa, karena kamu salah berdoa, sebab yang
kamu minta itu hendak kamu habiskan untuk memuaskan hawa nafsumu.”
Ingat sekali waktu itu, aku dalam perjalanan pulang
dari Klaten menuju Solo. Dengan mengendarai kendaraan pribadi (motor) aku
melaju bersama lelah, lapar dan haus. Menghadapi banyak tantangan-rintangan di
depan mata dengan sedikit melodi pita suara dan bisingnya jalan raya saat jam
pulang kerja tiba. . .
Awalnya aku merasa aku hanya perlu menikmatinya dan
menyelesaikan lintasannya;
Namun, dalam prosesnya ada banyak hal yang harus berhasil
melalui tahap "tes tahan uji".
Ya, ini tak sekadar melewati jalan raya puluan
kilometer dengan taat berlalu-lintas! Lebih dari itu, ada banyak hal yang perlu
didengar, bahkan dipelajari untuk diambil nilai kehidupannya.
Pertumbuhan diri memang tak pernah melewatkan topik “tak
sekadar” – selebihnya memang bernilai tinggi dan terus menerus menyadarkan
bahwa setiap kesempatan masing-masing orang sungguh unik walau bisa saja
bernilai sama (tak berarti setara).
Topik ini lahir dan bertumbuh dalam prosesnya . . .
Tak sekadar pilihan hidup untuk melaju dan menyusuri
Kota seberang dengan motor pribadi.
Tak sekadar hidup apa adanya dan berkata “takdirnya
memang sudah seperti ini”
Ya, tak sekadar seperti apa yang dunia katakan!
Aku lebih sukacita menyebutnya: perjalanan hidup untuk lebih mengenal-Nya!
Dalam damai
sukacita aku menyebutnya panggilan hidup dan kesempatan berkomunikasi langsung
dengan Dia.
Komunikasi,
Tidakkah demikian kata lain dari berdoa?
Kita berbicara, Allah mendengarkan
Dan sebaliknya ketika Allah mulai berbicara, yang
seharusnya kita lakukan memang “mendengarkan” juga bukan?
Atau terus menerus berbicara kuat signal (tanpa
terputus-putus) ?
Dalam detail kisah salah berdoa:
Masuk dalam Solo Kota, tepat di pertigaan jalan, motorku jatuh karna tersenggol badan mobil saat mobil tersebut hendak berbelok ke kiri. Aku yang ingin jalan lurus harus jatuh jadinya, aku syok dan gemetar, ingin menangis saja rasanya . . .
Bersyukur ada warga yang menolong dan pengendara mobil tersebut yang bertanggung jawab, serta menenangkan diriku yang masih kaget akan kejadian itu . . .
Rasanya campur aduk, yang paling aku ingat adalah menahan sakit di kaki dan tangan saat melanjutkan perjalanan menuju rumah yang lumayan masih jauh. Ya, aku harus segera lanjutkan perjalanan dengan motorku yang mengalami kerusakan di beberapa bagian . . .
Dan rasa sakit itu membawaku mengingat akan suatu hal. . .
Sepenggal Permohonan dalam Doa:
(Masih di daerah Kota Klaten)
“Tuhan lindungi chayu! Berikan chayu keselamatan,
jauhakan dari segala kuasa roh jahat dan segala mara bahaya!”
“Tuhan pokoknya jangan biarkan chayu jatuh! Selama 4
tahun ngelaju, jangan biarkan chayu jatuh dari motor di jalan raya jogja-solo”
“Tuhan, chayu gak mau jatuh!”
“Tolong, ya Tuhan! Berikan chayu keselamatan!”
Adakah yang ganjil dalam sepenggal doa tadi?
Rasanya bagi dunia, tentu saja itu wajar dan
kemungkinan besar banyak yang meresponi bahwa doa itu tidak salah karna kita hanyalah
manusia biasa. . .
Tapi yang mengejutkan, sepenggal doa tadi adalah awal
mula dari sebuah kejatuhan, perubahan besar, dan keajaiban kuasa-Nya yang
dinyatakan dengan kasih-tegas kepada ciptaan-Nya. . .
Bersambung . . .
Komentar
Posting Komentar